Jeritan petani sawit: Hemat-hemat makan, bayar sekolah tak mampu

Lotus4d.com – Para petani di Riau menjerit pasca anjloknya harga buah kelapa sawit yang menjadi komoditi mereka. Biasanya sawit dihargai Rp 1.600 perkilogram, kini berkisar di bawah Rp 1.000. Penghasilan petani tak dapat membayar sekolah anak-anak mereka.

“Harga kelapa sawit turun setelah lebaran kemarin, entah apa alasannya tiba-tiba saja turun drastis,” ujar Yanto Efendi Panjaitan, salah seorang petani sawit di Desa Pematang Jaya Kabupaten Indragiri Hulu, Riau saat dihubungi merdeka.com, Senin (30/7).

Yanto menjelaskan, meski sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menghargai dengan harga yang berbeda-beda, namun tetap tidak sesuai dengan hasil jerih payah mereka. Bahkan, selain sulit membayar uang sekolah anak-anak, petani juga kesulitan membeli bahan pangan dan sandang.

“Ya kalau untuk beli beras, hemat-hematlah makannya. Tapi kalau untuk bayar uang sekolah anak-anak ini yang tidak mampu. Sekarang kan anak-anak baru masuk sekolah, ada saja biaya yang harus dibayar,” kata Yanto.

Yanto menyebutkan, di PKS PT Inecda perusahaan milik pengusaha asal Korea tersebut menghargai sawit petani hanya Rp 850 perkilogramnya. Biasanya mencapai Rp 1.600. Terjadi penurunan harga seratus persen.

“Kalau di PT PAS, mereka memang membeli sawit petani Rp 1.060 perkilo. Tapi banyak potongannya, bahkan mencapai 7 persen, ya sama saja dengan PKS lainnya. Intinya semua PKS menurunkan harga sangat drastis,” ucap Yanto.

Petani mau tidak mau harus memanen sawit mereka meski dengan harga murah. Sebab, jika tidak dipanen akan merusak pohon sawit dan juga penghasilan mereka hanya mengandalkan buah penghasil minyak makan tersebut.

“Selain pohonnya rusak, kalau tidak dipanen, perut kita pun akan kelaparan. Hanya dari sawit lah sumber pencarian kami,” katanya.

Lotus4d.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *