Ini emoji yang kerap dipakai buat bully

Lotus4d.com – Sebuah dokumen internal Facebook belum lama ini bocor ke publik. Dokumen yang didapatkan situs Motherboard tersebut membeberkan bagaimana pengguna Facebook memakai emoji untuk aksi negatif dan provokatif, seperti hate speechbullying, konten eksplisit, serta pornografi.

Dari tabel yang diperlihatkan, untuk hate speech dan bullying, pengguna sering memakai emoji menangis, patah hati, emoji jempol terbalik ke bawah, emoji muntah, emoji menepok jidat, emoji tertawa terbahak-bahak, hingga emoji kotoran manusia.

Adapun untuk emoji pornografi, pengguna sering memakai emoji terong, buah persik, lidah, air, ular, hingga emoji telunjuk. Emoji ini diduga untuk melakukan sexting sesama pengguna.

Yang lebih mengejutkan, pengguna juga sering memakai emoji hewan untuk melakukan hate speech, beberapa di antaranya seperti emoji babi, anjing, ular, kelinci, kodok, sapi, monyet, gorila, dan masih banyak lagi.

Pada awal kemunculan aplikasi BBM, WhatsApp, dan aplikasi lainnya, menerima pesan terasa menyenangkan. Namun tak demikian saat ini. Peredaran pesan berbau spam, penipuan berkedok hadiah, serta upaya peretasan dari nomor tak dikenal membuat pengguna aplikasi ini resah.

Meski begitu, rupanya ada hal yang juga tak kalah marak terjadi di dunia internet. Berdasarkan studi terbaru dari Pew Reseach Center yakni selama beberapa tahun terakhir jumlah berbagai bentuk perundungan online meningkat.

Lotus4d.com

Hasil survei menunjukkan, 41 persen dari responden berusia dewasa mengklaim pernah mengalami pelecehan secara online.

Dibandingkan tahun 2014, yakni saat studi serupa dilakukan, hanya sekitar 36 persen responden dewasa yang mengaku jadi korban pelecehan di internet. Dengan begitu, bisa dikatakan terdapat peningkatan pelecehan secara online setidaknya 6 persen selama 3 tahun terakhir.

Disebutkan, bentuk bullying secara online pun beragam. Misalnya saja, memanggil nama dengan panggilan mengejek, mempermalukan orang di hadapan umum, ancaman fisik, hingga pelecehan seksual secara online.

Menariknya, studi yang sama juga mengungkapkan bahwa tindakan online stalking alias perilaku menguntit seseorang secara online masih tetap berada di angka 7 persen selama tiga tahun terakhir.

Sebenarnya pencegahan terhadap tindakan perundungan atau pelecehan secara online sudah dilakukan melalui berbagai fitur yang diperkenalkan media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Sebut saja opsi pemblokiran spam. Sayangnya, masih perlu dilihat lebih lanjut apakah fitur tersebut akan berdampak mengurangi tindak bullying secara online.

Lotus4d.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *