Orthorexia Nervosa, obsesi pada makanan sehat yang justru membahayakan

Jika berbicara tentang gangguan makan, mungkin kamu sudah familiar dengan bulimia, anoreksia, atau emotional eating. Semua gangguan makan ini punya tujuan yang sama yaitu untuk mencapai bentuk tubuh sehat idaman.

 Lalu, apakah kamu mendengar tentang Orthorexia Nervosa alias obsesi tidak wajar akan konsumsi makanan sehat.Ya, kamu tidak salah membaca bahwa ada beberapa orang yang begitu terobsesi untuk memiliki tubuh sehat dan bentuk menawan sehingga mereka tergila-gila dengan makanan sehat hingga berubah menjadi obsesi yang tidak sehat. Dan obsesi ini dinamakan dengan Orthorexia Nervosa.

Gangguan ini merayap perlahan namun pasti menghinggapi pikiran penderitanya. Bermula dari niat untuk menurunkan berat badan dan memiliki tubuh yang lebih sehat, penderita pun mulai mengubah pola makan dan menambahkan rutinitas olahraga harian. Berat badan pun akan turun hingga penderita pun menuai pujian dari orang di sekitarnya.

Dorongan dopamin yang muncul karena pujian ini membuat penderita bahagia dan mulai membuat mereka memperhatikan apa yang mereka makan, menghitung kalori, dan memeriksa setiap makanan yang akan dikonsumsi. Tidak lama kemudian, gangguan ini akan membuat penderitanya tak bisa menikmati makanan enak atau kegiatan yang bersifat rekreasional lainnya. Jika mereka makan 1 potong kue saja, maka mereka akan menggantinya dengan olahraga mati-matian.

“Bagi penderita orthorexia nervosa, sejumput garam diukur, setiap gigitan makanan dihitung, dan lalu diganti dengan olahraga. Siklus ini berlangsung secara obsesif hingga penderita tak menyadari bahwa lama-kelamaan kesehatan tubuh dan pikiran mereka memburuk,” terang penelitian yang dilansir dari Boldsky.com.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar penderita bisa sembuh?

“Sama seperti gangguan makan lain, penderita membutuhkan bantuan dokter, sebaiknya psikiater atau psikolog untuk membantu mereka memahami akar masalah dan kemudian menyingkirkannya. Dukungan positif dari lingkungan terdekat seperti keluarga, pasangan, dan teman juga diperlukan agar penderita bebas dari gangguan ini.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *