4 Perbaikan yang dibutuhkan Instagram agar jadi jejaring sosial terbaik

 LOTUS4D.COM-Instagram adalah jejaring sosial yang kini sedang sangat digandrungi masyarakat. Pasalnya, fitur Instagram Story adalah salah satu fitur media sosial terpopuler saat ini. Bahkan, di kuartal ketiga tahun lalu saja, pengguna Instagram sudah mencapai lebih dari 500 juta pengguna aktif harian.

Namun, Instagram bukan tanpa cela. Instagram dulu masih jadi tempat persekusi dan ujaran kebencian. Kini hal tersebut sudah banyak dibenahi dengan filter komentar.

Lalu bagaimana agar Instagram bisa jadi tempat yang lebih baik lagi daripada sekarang? Tidak terbenam di sumber berita palsu seperti Facebook, atau banyaknya bot pengendali opini seperti di Twitter? Berikut beberapa caranya.

1. Buang timeline berbasis algoritma

Pada 2016 lalu, Instagram mengganti linimasa berbasis kronologikal dengan algoritma. Hal ini membuat konten yang akan kita lihat di linimasa adalah konten yang dianggap terbaik untuk kita. Hal ini berdasar dari konten yang sering berinteraksi dengan kita ataupun punya banyak interaksi dengan followersnya.

Rupanya, hal ini bukan hal yang melulu baik. Linimasa yang ‘dirajut’ Instagram untuk kita nikmati, tak selalu merupakan yang paling menarik. Sebagai contoh kecil, tentu linimasa di hari Ibu tak akan menarik bagi pengguna Instagram yang Ibunya telah tiada. Linimasa yang dipenuhi pos soal hari ibu semua orang di Instagram bisa jadi membuatnya sedih.

Contoh lain adalah ketika Pemilu AS, ketika Trump menang, isi linimasa Instagram dipenuhi para calon pemilih yang berangkat untuk mencoblos. Jika linimasa tetap kronologikal, di jam Pemilu telah dimenangkan, tentu isi linimasa tak akan berisi betapa optimisnya pendukung Hillary yang pada akhirnya kalah.

2. Hilangkan tombol like

 Tombol like seakan-akan jadi ukuran bagaimana kiprah kita di media sosial. Dengan bermimpi untuk mendapat banyak like, kita tentu mengimajinasikan dunia di mana semua orang menyukai kita padahal dunia tersebut tidak nyata.

Jika kita renungkan, tombol like-lah penyebab banyak kerusakan di media sosial. Tombol like adalah salah satu cara terbaik untuk berinteraksi di media sosial, namun masalah terbesarnya adalah interaksi tersebut tak berarti kita benar-benar secara tulus ‘menyukai’ kiriman orang lain yang kita like, bahkan hal tersebut mengurangi nilai dari betapa berartinya sebuah percakapan dan interaksi yang biasa kita lakukan di dunia nyata.

Dari sini, distorsi antara dunia nyata dan maya. Tanpa cek dan ricek, seringkali interaksi media sosial dianggap nyata muncul berita palsu yang penyebarannya dengan mudah diterima.

Hal ini diperparah dengan kebiasaan kita untuk memeriksa berapa jumlah like yang kita dapat untuk tahu siapa yang ‘mengakui’ kita. Ini adalah akar dari adiksi media sosial dan memperparah distorsi dunia maya yang telah dijelaskan sebelumnya.

Mungkin berbagai perusahaan jejaring sosial bisa lakukan eksperimen di mana pola pikir untuk berjejaring sosial adalah untuk membagi suatu momen dengan interaksi yang ‘berarti’ layaknya di dunia nyata.

3. Jika timeline algoritma tak bisa dibuang, paling tidak buat untuk bisa diatur

 Mungkin timeline berbasis algoritma sulit untuk dihilangkan karena seakan jadi ‘kode etik’ di semua jejaring sosial saat ini. Namun harusnya ada opsi untuk tidak memakainya.

Twitter memiliki fitur untuk mematikan ini, di mana kita tak perlu mencentang fitur “show me the best Tweets first” yang adad di dalam opsi preferensi konten. DiFacebook pun terdapat fitur “most recent” yang jika dipiliah akan langsung menampilkan timeline kronologikal.

Dengan ini, Instagram jadi jejaring sosial yang benar-benar memaksa kita untuk mengonsumsi timeline yang dianggap terbaik, padahal timeline terbaik bisa jadi yang dibiarkan apa adanya tanpa ‘dijahit’.

4. Ketimbang fitur algoritma, lebih baik fitur pilih teman prioritas

Pada dasarnya, Instagram story kini sudah memiliki fitur teman dekat yang membuat ‘lingkaran’ pertemanan di dalam Instagram. Namun lagi-lagi kita akan melihat timeline berdasar algoritma yang membuat kita akan melihat kiriman terpopuler.

Harusnya, akan lebih baik jika kita sendiri yang pilih siapa yang ingin kita lihat. Seperti yang dilakukan di Facebook dengan “see first”, yang merupakan fitur di tiap laman individual Facebook yang jika kita klik, akun tersebut akan selalu muncul pertama jika ia mengepos kiriman baru.

Youtube juga melakukan ini di tiap laman invididual, di mana ada ikon berbentuk bel yang jika diklik pengguna, notifikasi akan selalu muncul jika yang bersangkutan mengeluarkan video baru.

Hal ini masih kurang diterapkan Instagram dengan ‘mulus.’ Pasalnya, Facebook punya fitur seperti Youtube di mana jika kita memilh “turn on post notifications” kita akan diberi notifikasi bila yang bersangkutan mempos sebuah konten. Namun hal ini berujung mengganggu. karena notifikasi akan terlalu sering muncul. Di satu sisi, hal ini sangat sempurna untuk diterapkan di platform video seperti Youtube yang perilisan videonya tak sesering seseorang mengunggah foto di Instagram.

Jadi, mengapa Facebook tidak menerapkan “see first” di Instagram yang notabene adalah anak perusahaannya?

Mari kita berharap agar Instagram jadi platform yang lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *